Q Newt

wake up!

Posted on: April 24, 2007

“aku harus menetukan pilihan. hidup tetap begini atau hidup lebih baik. ” begitu bunyi sms ku menjawab keraguan mba neni atas keputusanku untuk segera menikah.

sejujurnya kukatakan aku sebenarnya tidak siap harus menikah dalam waktu dekat ini walau akhir tahun ini bahkan mungkin sampai dua tahun lagi. bukan tanpa alasan tentunya kenapa aku merasa demikian. i know myself well. aku merasa aku masih sangat belia pada usiaku yang baru 24 tahun 4 bulan 4 hari (takut salah, kusebutkan saja bahwa ulang tahun terakhirku adalah tanggal 21 Desember 2006). aku merasa aku belum apa-apa. dalam pikiranku sampai sekarang. pada saat aku menikah nanti aku paling tidak sudah mapan secara ekonomi. “jangan menikah dulu kalau belum bisa cari duit,” begitu pesan dari ibuku tercinta saat kulemparkan permasalahanku hidupku kepadanya. (tuhan, aku kangen banged sama bundaku, ayahku, mereka baik sekali, sangat menyayangiku, i love mom, dad. takkan kukecewakan kalian).

jauh sebelum aku berhubungan dengan orang-orang yang kusayangi. dalam benakku tertanam, jika aku menikah kelak, aku harus sudah punya rumah. hal ini aku pikir sangat wajar dan tidak mengada-ada. aku tidak mau pada awal pernikahan aku mesti mumet mikirin harus bikin rumah, atau harus menanggung rasa kikuk, ga enak karena ikut mertua misalnya atau harus tinggal di rumah kontrakkan. nggak deh kayaknya. hal ini sesederhanan keinginanku yang pengen bekerja sebelum lulus kuliah. sederhana saja bukan? ga mau mumet ketika aku mesti mikir mesti cari kerja ke mana. ngajuin surat lamaran ke mana-mana. beban mental deh kayaknya. ya walau bekerja kepada orang bukan cita-citaku. “ada saatnya,” kata wiryo sok dewasa. yang dia maksud mungkin perpindahan quadran (istilahnya robert teosaki, hihih bener ga ya nulis namanya).

tadinya, keinginanku menikah karena aku pengen lepas dari kemumetan ini. “memangnya mumet kenapa seh mas? presinden aja yang mikir negara kayaknya mumetnya ga kayak kamu.” cletuk temenku, marakna pengen nyampluk. rasanya hidupku tidak berubah. hidupku masih sama seperti pada awal kuliah dulu. saat usiaku baru 19 tahun. padahal sekarang umurku sudah menginjak 25. edan! ga da perubahan. “kamu memang termasuk orang yang merugi!” tambah temanku lagi sambil menggelengkan kepala seraya bunyi ck ck ck keluar juga dari mulutnya.

hanya beda level aja. pikirku dalam hati. aku masih kekanak-kanakan. dah ga pokoknya prasa itu mewakili segalanya. “lha wong kamu ga mau merubahnya,” temenku masih aja nimbrung. “may,” jawabku singkat menirukan ringgo agus rahman. “maybe yes maybe son (emang si coy).” aku ga tau kekanak-kanakaku sudah watek atau hanya karakter saja. “banyak yang lebih muda dari kamu tapi dewasa,” kata pacarku jengkel suatu hari.

aku aja tambah mumet sekarang. dulu sulis memutuskanku karena aku ga dewasa kaya dia. aku kekanak-kanakkan. ah dua kata yang menyebalkan. dewasa, childish. absurd juga seh. aku tidak paham betul bagaimana dewasa, bagaimana kekanak-kanakan. suatu hari nanti aku tulis diblog ini, tentang dua hal itu. tentu saja setelah kudapat menerjemahkannya.

“setelah menikah bukan berarti masalah selesai. justru masalah tambah banyak. apa siap menghadapinya? apa siap untuk megalah dan berbagi? untuk tidak egois dan mengerti pasangan.” duh kayaknya mumet banged deh mikirnya aja. apa lagi orang kayak aku yang masih ‘lenjeh*’, kekanak-kanakan (harus dicetak tebal mestinya neh). juni aja yang jauh lebih dewasa, jauh lebih tua. atau chubby aja yang jauh sudah lebih matang. atau yudhis yang tampak sudah cukup waktunya, belum melepas masa lajangnya. lha aku yang masih penyik ini ko mau menikah. “jangan ngawur ah!, bisikku dalam hati.

yang jelas sekarang. wake up! seperti banner dalam hapeku. bangun! begitu bahasa indonesianya. berubah. kata power ranger. banyak hal yang mesti dilakukan sayang. banyak hal yang mesti dibenahi. ga da gunanya berkutat pada urusan wanita. “_no woman_” profile dalam hape nokia 3915-ku. buat seseorang, tulisan itu bukan berarti tidak memikirkanmu. tapi no woman artinya aku mengganti isi kepalaku dengan yang lain. bukan dipenihi dengan wanita dan kewanitaanya. ada yang lebih penting dari hanya memikirkan wanita dan kewanitaanya. sayang, l love. mari kita kembali benahi kembali hubungan kita yang sempa terkoyak. hingga suatu saat nanti ketika kita menikah kita bener-benar siap. “kamu, bukan aku. aku sudah siap.” kata pacarku itu meralat. “oh iya maaf sayang,” jawabku cengar-cengir, tersipu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: