Q Newt

Archive for Juli 2009

Menulis

Posted on: Juli 27, 2009

Saya sadar saya rapuh. Saya sadar saya lemah, tapi saya tahu saya punya kekuatan besar untuk membuat saya kuat dan luar biasa!

Seorang teman pernah menulis di status facebooknya tentang kebenciannya terhadap orang yang menulis kata-kata bijak di status facebook. Saya sempat memberikan komentar, bertanya seperti apakah kata-kata bijak itu? Sayang kebenciannya sudah pudar, sehingga dia tidak bergairah lagi untuk membalas komentar saya.

Sebelum saya memberikan komen pertanyaan tentang seperti apakah kata bijak yang dimaksud, saya menuliskan komentar dengan membuat pertanyaan “kenapa kita tidak memberikan energi positif kepada orang lain?” Sepertinya teman saya masih terbawa emosi, sehingga dia juga membalas komentar saya dengan ‘serius’.

Di facebook, tentu orang bebas mau nulis apa aja. Mau nulis tentang kegelisahan, rasa senang, bahagia atau bahkan rasa benci seperti yang diungkapkan teman saya itu (saran saya seh tidak menulis hal-hal negatif). Juga bebas mau menulis kata apa saja, termasuk kata-kata bijak, yang dibenci teman saya itu yang sampai sekarang saya tidak tahu kata-kata bijak yang dimaksud itu seperti apa.

Saya juga sering menulis hal-hal yang tidak penting di status facebook. Tidak ada yang melarang bukan? Wong facebook itu gratis kok. Kita bisa melakukan apa aja dengan barang gratis bukan? Hanya saja saja lebih memilih menulis hal-hal yang positif di status facebook saya.

Bukan karena saya sok, tapi kondisilah yang membuat saya jarang mengganti status. Saya seringkali baru mengganti status facebook sehari sekali, bahkan sampai beberpa hari tidak diganti. Selain tidak punya ide, juga tidak ada kesempatan. Wong saya tidak punya laptop yang bisa ditenteng kemana-mana dan bisa kontek internet di mana-mana. Apalagi punya telepon pintar  yang bisa kontek internet. Saya hanya mengandalkan internet di rumah yang
kecepatannya kayak kura-kura, dan nunut di kantor istri saya. Namanya nunut, makainya juga terbatas. Harus tahu diri.

Selain kondisi tersebut, saya juga berkeyakinan bahwa menulis itu akan berpengaruh pada kehidupan kita. Terlalu jauh mungkin. Tapi yang jelas berpengaruh pada daya ingat kita.

Waktu jaman SMP dulu, saat tes saya sering membuat contekan. Tapi contekan itu pada akhirnya tidak saya gunakan. Bukan karena takut sama pengawas, tapi ternyata apa yang saya tuliskan di kertas contekan itu, saya  inget.

Mungkin begini, saat membuat contekan, kita membaca buku, kemudian menuliskan ringkasannya di kertas cetakan yang biasanya berukuran ramping dan memanjang. Saya tidak pernah menuliskan contekan di paha,
seperti teman-teman cewek saya pernah lakukan.

Nah saat pertama kali membaca, mata kita sudah menyampaikan pesan yang dilihat dan ditransfer ke pikiran kita. Namanya juga membuat contekan, tidak semua materi yang ada di buku disalin semua. Yang penting-penting saja. Ini proses kedua di pikiran kita. Kemudian kita menuliskannya. Saat kita menuliskan, apa yang kita tuliskan itu secara tidak sadar dikirimkan lagi ke  pikiran lagi. Jadi minimal tiga kali nyangkut di pikiran apa yang kita tuliskan tersebut.

Itulah kenapa saya nulis status facebooknya ‘jayus’, ‘basi’ yang saya anggap hal positif.

Selain karena keyakinan tentang menulis itu tadi, saya juga sadar bahwa saya orang yang rapuh dan lemah, gampang nyerah dan seabreg hal negatif lainnya. Yang di lain sisi sebenarnya seperti apa yang diungkapkan orang, bahwa setiap orang punya GIANT POWER dalam dirinya. Dan itu bisa kita bangkitkan dari pikiran kita, dari apa yang kita yakini.

Jadi saya memilih menulis yang positif, saya tidak muluk-muluk biar orang lain ikut mendapat pengaruh positif dari hal (yang saya anggap) positif yang saya tuliskan di status facebook. Saya hanya pengen menumbuhkan, menjaga dan memelihara semangat dan hal positif dalam diri saya. Kalau ada orang lain yang terpengaruh sukur. Kalau tidak ada, paling tidak saya telah menumbuhkan keyakinan positif dalam diri saya.

Iklan

akhir-akhir ini saya disibukan oleh ulah seorang anak perempuan. ada-ada saja ulah anak itu. minta gendong lah, minta main kuda-kudaan lah, minta dibeliin sepeda lah. saat dia minta gendong, saya jawab, “memangnya saya mbah surip.

itu tentu saja bukan cantika callysta aisha. wong anak saya yang cantik jelita itu baru bisa muter-muter di atas kasur dan guling-guling hingga jatuh. dia adalah anak tetangga yang tiap hari main di istana ciku, rumah kami. jarak rumahnya dan istana ciku itu memang hanya terhalang satu rumah.

dia sebenarnya anak baru di komplek kami. orang tuanya baru menempati rumah itu sekitar satu bulanan. tapi semenjak menempati rumah baru itu, anak perempuan kecil yang sekarang baru masuk tk itu sudah slanang-slonong masuk istana ciku.

awalnya risi juga, namanya anak kecil, kadang banyak ulahnya. pegang ini lah itu lah, ya walau tidak ada barang berharga di istana ciku, tetep saja rasanya risi. tapi lama-lama malah keasikan sendiri.

maksudnya lumayan buat hiburan. istri saya dan asisten rumah tangga keluarga ciku sering ngerjain dia. ditanyain macem-macem, sampai diajarin warna dengan warna yang salah. maksudnya kalau dia pakai baju merah, istri saya menyebutnya hijau, dan sebagainya. ya dia manut aja, wong dia belum tahu warna apalagi angka.

“tamba ngantuk,” ujar asisten rumah tangga keluarga kami.

sekarang tambah jadi deh ulah si perempuan kecil yang yang mempunyai nama sebut saja ‘syasya’ itu. kalau sore saya anter istri saya bekerja, dia minta cium tangan. kalau sore setelah kami datang kembali, dia menyambut dengan ceria dan ‘lendotan’ di kaki saya.

“kaya bapaknya aja nih syasya,” kata saya saat syasya lendotan.

“ke bapaknya aja ga gitu om,” ujar pengasuh syasa yang kata mommy ciku mirip mantan saya itu (mommy ciku terlalu!)

tapi memang gitu kelakuan syasa, tadi sore malah, sebelum saya berangkat ngater istri saya bekerja, saat saya bermain bersama callysta, datanglah si syasa itu. langsung deh dia mencari perhatian, dengan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas punggungku yang memang sedang berbaring telungkup di atas perlak bersama callysta.

sambil terus becanda, kami juga sesekali memalingkan pandangan ke televisi. kebetulan lagi ada acara musik hits di rcti. saya memang suka nonton acara begituan, dari dahsyat kalau pagi, hits siang hari, sampai mantap di sore hari.

mungkin karena saking banyaknya acara musik kayak begitu, jadinya lagu-lagunya familiar di telingan siapa saja. tidak hanya orang-orang seumuran saya, dari orang tua hingga anak-anak banyak hafal lagu-lagu band-band atau penyanyi dewasa.

saat saya memalingkan muka ke televisi itulah muncul lagunya the dance company, papa rock n roll. menyanyilah kami bersama. ternyata syasa juga hafal lagu itu. tapi saya tidak menyanyikannya persis, tapi memlesetkannya beibeh menjadi syasa.

‘papa ga pulang syasa, papa ga bawa uang syasa’

menurut gsoyip yang saya denger dari istri dan asisten rumah tangga ciku, papah syasa itu adalah seorang pemain turntable. dia memang jarang di rumahnya sini. kadang di bandung kadang di bali. tergantung lagi ada acara di mana.

saat kami menyanyikan lagi itu dengan diplesetkan ke syasa, sepertinya syasa kerasa. dia tertunduk sambil ‘nguwel-nguwel’ ujung perlak.

“waduh cilaka,” kata saya ke istri saya yang lagi siap-siap mau berangkat.

tidak menunggu lama, akhirnya saya mencoba membuyarkan syasa.

“gendong apa syas? sini gendong,” kata saya ke syasa.

“kalau ngga kuda-kudaan aja, ayo naik.” kata saya lagi ke naila sambil pasang posisi kuda.

ternyata trik ini berhasil, syasa dengan malu-malu naik ke punggung saya. dan beraksilah si syasa. mulai dari menutup saya, sambil beraksi layaknya menunggang kuda. “waduh anak kecil ini kok, lancip bener pantatnya,” teriak saya.

tapi syasa cuek, dia malah semakin menjadi dengan memegang kuping saya dan menariknya sambil terus lunjank-lunjak di atas punggung saya. di depan saya callysta memperhatikan dengan seksama. sepertinya dia cemburu. dia mulai ngiak-ngiuk (berkata-kata, tapi dengan bahasa bayi) sambil lambenya jebaw-jebew tanda mau nangis.

sambil tetap ditungganggi syasa saya mencoba menenangkan callysta. memperhatikan dia lagi, seteleh beberapa saat dicuekin.

“waduh repot bener, brasa sudah punya anak dua!” teriak saya sambil mengakhiri permainan itu dan bersiap berangkat mengantar mommy ciku yang baru punya anak satu.

Idealis

Posted on: Juli 14, 2009

“Apa kamu masih idealis newt?”, begitu tanya temanku pada suatu sore ditengah obrolan yang ngalor-ngidul ga jelas. Masih kata saya tanpa ragu.

Idealis menurut kamus adalah orang yang mempunyai cita-cita yang tinggi, penganut paham idealisme. Sedangkan idealisme sendiri adalah cara bertindak sesuai dengan yang diidamkan. Sederhananya, kata saya kepada temen saya itu, kalau lampu merah walaupun baru sedetik ya berhenti. Jangan diterjang aja.

Menurut saya menjadi idealist itu bukannya sok suci. Tapi dengan kita bertidak sesuai dengan yang diidamkan ( bisa dikatakan semestinya) itu adalah demi kebaikan kita juga.

Contoh, jangan membuang sampah sembarangan. Kita pasti tahu dong, akibatnya kalau sampah dibuang sembarang. Saluran air macet, got mampet, bau! Atau kalau hujan datang, karena saluran air mampet, air meluap. Banjir dah!

Berhenti pada saat lampu merah menyala misal, itu bukannya baik juga buat kita. Kan sering banged tuh, di pertigaan jalan kampus, hr bunyamin deket fisip ngunsud, main terjang aja. Akibatnya apa, hampir tabrakat, untung ga tabrakan.

Sore itu, saya sama temen saya itu membicarakan masalah jualan untuk mendapatkan uang. Menurut saya jualan itu juga harus melakukan hal yang semestinya. Menurut saya, dalam berjualan, kita sebagai penjual, tidak semata-mata meraup keuntungan, tapi bagimana agar si pembeli juga merasakan manfaat sesui dengan nilai yang telah dia belanjakan.

Saya merasa ngga enak pada client kalau tidak melakukan pekerjaan yang tidak semestinya. Saya sering sharing dengan partner saya, mohammad hasbi. “Bi kita evaluasi, kayaknya yang kita lakukan kemaren kurang sip. Bagaimanapun kita memegang amanah,” kata saya waktu itu.

Apa si baiknya mengerjakan yang semestinya itu? Hal ini menurut saya sebenarnya akan berpulang kepada diri kita juga. Misal kita jualan buku kumpulan soal, soal-soalnya sesuai dengan yang standar, dilayout dengan cantik, dikemas dengan rapi tentu yang beli akan seneng. Karena mereka menerima manfaat sesuai dengan nilai yang dia keluarkan. Ujung-ujungnya, pelanggan puas, insya Allah, tuh pelanggan pasti akan beli produk kita lagi. Ini yang disebut kontinyuitas.

Customer ga akan kapok beli produk kita. Lain halnya kalau kita ‘membohongi’ customer. Barang jelek dibilang bagus. Isinya buruk, kemasannya dibikin cantik. Disampulnya ditulis sudah sesuai standar, padahal isinya jauh. Saya juga kalau kalau ngejual iklannya Daily QNews, saya bilang jujur apa adanya. Daily QNews kalau di Knite City si nomer satu, tapi di daerah Freedom Voice lebih unggul.

“Kalau misal kita mengerjakannya sekedarnya, bisa saja  dampaknya kurang, klien kita merasakan hal itu, lalu mereka mengadakan evaluasi,  bisa-bisa kita diputus kontraknya,  yang rugi kan k ita juga,” crocos saya.
Pada dasarnya semua orang baik. Pasti ketika dia berbuat hal yang negatif, berbuat bohong misalnya. Hati kecilnya ga akan terima. Itu menurut saya loh. Boleh ga percaya, boleh ga dibaca. Dan penerapan kata idealis di sini mungkin juga kurang tepat. Mohon dimaafkan.


It’s Me, Q NEWT!

porno_.jpg

Kalender

Juli 2009
S S R K J S M
« Jun   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

theCaskims

Nyalakan Semangatmu; Apa Yang Terjadi Sekarang, Apa Yang Kamu Pikirkan Kemaren! Rencanakan Hidupmu!

Blog Stats

  • 48,795 hits